Friday, September 28, 2012

Describting Family


Hi,I have a homework from my teacher for describting my family.
Okey,I’ll describe my family.
My family has 5 members.
Me, my younger brother, my brother and parents of course.

My mother is 40 years old. Her name's Juariyah. She's thin-faced and she's got tall, black hair and beautiful brown eyes. She's rather slim because she always trying to stay in shape. She follows a aerobic and does regular exercises. She's very good-looking and so beautiful I think,she’s always well-dressed and elegant.
She's quite easy-going and warm-hearted - until I did something wrong - then she can be strict.

My father, Ali, is 5 years older than my mother. He's 45. In spite of his age he's still black-haired, maybe with several curly hairs. He's got black eyes. He's got tall, but a bit taller than me or my brother and his stomach is rather big because of beer.
He's very hard-working. Besides that he is working in building work and he doing also a houseworks. He says that is always something to do. He even makes a dinners when mother is outside. However, he likes cooking and his meals are always very tasty. My mothers' are tasty too of course.

Next is my parents' oldest son. My brothers' name's fauzi. He's 23 and he's 2 years older than me. He's tall and rather slim. He's blak-haired boy with brown eyes. He's always well-dressed because he likes to buy a nice clothes. Sometimes I'm stealing his shirt or blouse and then he's going mad.
He's general easy-going but very sharp, brainy and able. He was studying at pekalongan and now he's working in manufacturing industri.

Finally, my younger brother Natalia. He’s 17. He's also black-haired and brown-eyed. He's got short hair. He's definitely tall same like  me and my brother.
He's rather introverted. I guess He's little too sensitive and worried. But He's very sensible, smart and co-operative. He's learning a lot and always can help. He's studying machining and also knows  English very well. I want to be so smart as he is.

They all, except me,now my younger brother lives with my parents,while I lived in Jakarta and my Brother now lives in Cikarang because he works there.I really love my family,and I want to make them happy after my success later

Tuesday, November 3, 2009

PRESIDEN BENTUK TIM INDEPENDEN

Ditulis oleh Harian Bangsa


Selasa, 03 November 2009 14:09

Jakarta-HARIAN BANGSA



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengakomodasi desakan masyarakat untuk menengahi konflik KPK-Polri terkait proses hukum terhadap Wakil Ketua KPK (nonaktif), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.

Untuk itu, Presiden membentuk tim independen verifikasi fakta dan proses hukum Bibit-Chandra. Tim diketuai praktisi hukum senior yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung Nasution , dengan Wakil Ketua mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Koesparmono Irsan, dan Sekretarisnya adalah Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana.

Tim dilengkapi dengan lima anggota, yakni praktisi hukum Todung Mulya Lubis, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, guru besar UI Prof Hikmahanto Juwana, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, dan pengacara Amir Syamsuddin.

Keputusan membentuk tim independen itu disampaikan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM Djoko Suyanto di Kantor Presiden, Senin (2/11) siang kemarin, seusai pertemuan tim dengan Presiden SBY.

Tim ini mempunyai hak untuk mendapat informasi apa pun terkait proses hukum Bibit-Chandra. Target pastinya belum ditentukan, tetapi diharapkan dalam waktu dua pekan tim sudah bisa selesai bekerja. Kalau bisa bahkan kurang dari dua pekan.

Tim independen verifikasi fakta dan hukum kasus dua pimpinan KPK nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, salah satu fungsinya ialah menepis kecurigaan publik bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak peduli perkara ini.

“Kita masih butuh kepolisian, kami butuh KPK, sekarang ini adalah dalam konteks kita berharap semua itu dapat berjalan dengan baik,” kata Hikmahanto, anggota tim independen di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin.

“Isu utama ini adalah mistrust dan distrust dari lembaga kepolisian. Karena itu ini yang akan kami selesaikan,” katanya.

Hikmahanto menekankan bahwa dalam konteks kasus ini, Presiden SBY ingin agar peran polisi tidak dikerdilkan, juga KPK tidak dibubarkan karena kedua lembaga itu masih dibutuhkan masyarakat.

“Lembaga-lembaga itu penting. Nah, kami ingin melokalisir permasalahannya,” kata dia. “Jangan sampai permasalahan ini kemudian bisa berakibat antipati masyarakat terhadap satu lembaga.”

Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mempersilakan kepada TPF yang sudah terbentuk untuk melakukan tugasnya.

"Kalau memang sudah terbentuk, ya silakan datang saja. Kita akan buka itu (proses penyidikan)," kata Kapolri seusai pertemuan dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring bersama sejumlah pimpinan media massa di Kantor Departemen Komunikasi dan Informatika, kemarin.

Tak hanya mempersilakan, Kapolri juga berjanji akan memberikan fasilitas untuk membantu TPF melakukan penyelidikan. "Kita akan fasilitasi. Silakan nanti didalami apa yang kita kerjakan," katanya.

Para pemimpin redaksi berbagai media massa mendesak Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Bambang Hendarso untuk menangguhkan penahanan dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Jawaban Kapolri?

"Insya Allah akan kami pertimbangkan," kata Kapolri. Namun, Kapolri menegaskan pembebasan keduanya ditentukan oleh undang-undang. "Bukan karena desakan media masssa atau pihak lain," kata Bambang Hendarso. "Ini murni penyidikan."

Di sisi lain mantan perwira polisi yang juga alumnus Akademi Kepolisian mendukung pembentukan tim independen verifikasi fakta dan hukum kasus penahanan dua pimpinan KPK nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Tim ini merupakan bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Bagus itu,” kata Purnawirawan Komisaris Besar Alfons Loemau, pengajar Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia, dalam konferensi pers di Sekretariat Imparsial, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin 2 November 2009. Alfons merupakan alumnus Akpol seangkatan dengan Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, tahun 1974.

Alfons mengatakan banyak sekali alumnus Akpol yang mendukung pembentukan tim independen. Tapi, dia belum dapat menyebutkan jumlah anggota yang mendukung.

Ditanya bagaimana menilai kasus itu, Alfons mengatakan, “Kecenderungannya individu. Individu yang punya kepentingan.” Kenapa ditahan lagi dengan tuduhan dengan melakukan jumpa jumpa pers.”

Alfons juga mengkritik petinggi polisi yang mengatakan kalau lembaga ini bertanggung jawab kepada Tuhan. “Jangan bawa-bawa nama Tuhan. Polisi tidak di bawah Tuhan, tapi undang-undang. Apa itu maksudnya bertanggung jawab kepada Tuhan.”

Wednesday, October 28, 2009

UNTUK SAHABAT


Posting cerpen by: fairy
Total cerpen di baca: 18987
Total kata dlm cerpen: 814
Tanggal cerpen diinput: Sun, 10 May 2009 Jam cerpen diinput: 11:26 AM
12 Komentar cerpen Ketika dunia terang, alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya jika ada sahabat disampingku. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat. Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku yang begitu merindukan kehadiran seorang sahabat. Aku memang seorang yang sangat fanatik pada persahabatan. Namun, sekian lama pengembaraanku mencari sahabat, tak jua ia kutemukan. Sampai sekarang, saat ku telah hampir lulus dari sekolahku. Sekolah berasrama, kupikir itu akan memudahkanku mencari sahabat. Tapi kenyataan dengan harapanku tak sejalan. Beragam orang disini belum juga bisa kujadikan sahabat. Tiga tahun berlalu, yang kudapat hanya kekecewaan dalam menjalin sebuah persahabatan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi paling tidak, kuharap dalam tiga tahun yang kuhabiskan di sekolahku ini, aku mendapatkan sahabat. Nyatanya, orang yang kuanggap sahabat, justru meninggalkanku kala ku membutuhkannya. “May, nelpon yuk. Wartel buka tuh,” ujar seorang teman yang hampir kuanggap sahabat, Riea pada ‘sahabat’ku yang lain saat kami di perpustakaan. “Yuk, yuk, yuk!” balas Maya, ‘sahabatku’. Tanpa mengajakku Kugaris bawahi, dia tak mengajakku. Langsung pergi dengan tanpa ada basa-basi sedikitpun. Padahal hari-hari kami di asrama sering dihabiskan bersama. Huh, apalagi yang bisa kulakukan. Aku melangkah keluar dari perpustakaan dengan menahan tangis begitu dasyat. Aku begitu lelah menghadapi kesendirianku yang tak kunjung membaik. Aku selalu merasa tak punya teman. “Vy, gue numpang ya, ke kasur lo,” ujarku pada seorang yang lagi-lagi kuanggap sahabat. Silvy membiarkanku berbaring di kasurnya. Aku menutup wajahku dengan bantal. Tangis yang selama ini kutahan akhirnya pecah juga. Tak lagi terbendung. Sesak di dadaku tak lagi tertahan. Mengapa mereka tak juga sadar aku butuh teman. Aku takut merasa sendiri. Sendiri dalam sepi begitu mengerikan. Apa kurangku sehingga orang yang kuanggap sahabat selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti semua ini. Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan untuk sahabat-sahabatku, tapi lagi-lagi mereka ‘menjauhiku’. “Faiy, lo kenapa sih ? kok nangis tiba-tiba,” tanya Silvy padaku begitu aku menyelesaikan tangisku. “Ngga papa, Vy,” aku mencoba tersenyum. Senyuman yang sungguh lirih jika kumaknai. “Faiy, tau nggak ? tadi gue ketemu loh sama dia,” ujar Silvy malu-malu. Dia pasti ingin bercerita tentang lelaki yang dia sukai. Aku tak begitu berharap banyak padanya untuk menjadi sahabatku. Kurasa semua sama. Tak ada yang setia. Kadang aku merasa hanya dimanfaatkan oleh ‘sahabat-sahabatku’ itu. Kala dibutuhkan, aku didekati. Begitu masalah mereka selesai, aku dicampakkan kembali. “Faiy, kenapa ya, Lara malah jadi jauh sama gue. Padahal gue deket banget sama dia. Dia yamg dulu paling ngerti gue. Sahabat gue,” Silvy curhat padaku tentang Lara yang begitu dekat dengannya, dulu. Sekarang ia lebih sering cerita padaku. Entah mengapa mereka jadi menjauh begitu. “Yah, Vy. Jangan merasa sendirian gitu dong,” balasku tersenyum. Aku menerawang,” Kalau lo sadar, Vy, Allah kan selalu bersama kita. Kita ngga pernah sendirian. Dia selalu menemani kita. Kalau kita masih merasa sendiri juga, berarti jelas kita ngga ingat Dia,” kata-kata itu begitu saja mengalir dari bibirku. Sesaat aku tersadar. Kata-kata itu juga tepat untukku. Oh, Allah, maafkanku selama ini melupakanmu. Padahal Dia selalu bersamaku. Tetapi aku masih sering merasa sendiri. Sedangkan Allah setia bersama kita sepanjang waktu. Bodohnya aku. Aku ngga pernah hidup sendiri. Ada Allah yang selalu menemaniku. Dan seharusnya aku sadar, dua malaikat bahkan selalu di sisiku. Tak pernah absen menjagaku. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Dia akan selalu mendengarkan ‘curhatanku’. Dijamin aman. Malah mendapat solusi. Silvy tiba-tiba memelukku. “Sorry banget, Faiy. Seharusnya gue sadar. Selama ini tuh lo yang selalu nemenin gue, dengerin curhatan gue, ngga pernah bete sama gue. Dan lo bisa ngingetin gue ke Dia. Lo shabat gue. Kenapa gue baru sadar sekarang, saat kita sebentar lagi berpisah…” Silvy tak kuasa menahan tangisnya. Aku merasakan kehampaan sejenak. Air mataku juga ikut meledak. Akhirnya, setelah aku sadar bahwa aku ngga pernah sendiri dan ingat lagi padaNya, tak perlu aku yang mengatakan ‘ingin menjadi sahabat’ pada seseorang. Bahkan malah orang lain yang membutuhkan kita sebagai sahabatnya. Aku melepaskan pelukan kami. “ Makasih ya, Vy. Ngga papa koki kita pisah. Emang kalau pisah, persahabatan bakal putus. Kalau putus, itu bukan persahabatan,” kataku tersenyum. Menyeka sisa-sisa air mataku. Kami tersenyum bersama. Persahabatan yang indah, semoga persahabatan kami diridoi Allah. Sahabat itu, terkadang tak perlu kita cari. Dia yang akan menghampiri kita dengan sendirinya. Kita hanya perlu berbuat baik pada siapapun. Dan yang terpenting, jangan sampai kita melupakan Allah. Jangan merasa sepi. La takhof, wala tahzan, innallaha ma’ana..Dia tak pernah meninggalkan kita. Maka jangan pula tinggalkannya.

CINTA BERDURI DAN WEWANGI


Posting cerpen by: chika.cihuy
Total cerpen di baca: 248
Total kata dlm cerpen: 247
Tanggal cerpen diinput: Tue, 27 Oct 2009 Jam cerpen diinput: 5:37 PM
0 Komentar cerpen Ceria namaku tetapi teman- temanku sering memanggilku dengan nama ria. Namun, namaku tak sesuai dengan keadaanku. Gara-gara tubuhku yang tambun, aku terkadang hilang rasa percaya diriku dengan cowok. Tetapi, hal itu tidak membuatku takut. Aku mempunyai sahabat- sahabat yang baik kepadaku. Mereka selalu membuatku tuk ceria seperti namaku.Hari sabtu adalah hari yang aku benci tetapi aku tunggu-tunggu. Aku benci hari sabtu karena setiap hari sabtu jika aku melihat disekelilingku pasti identik dengan berjalan berdua dengan masing- masing pasangannya dan aku sendiri pada hari sabtu hanya nonton tv, membaca buku, mendengarkan musik, bermain laptop jika tidak bermain piano. Aku senang berjalan- jalan ( ya tetapi itu hanya menghilangkan rasa kejenuhanku saja). Aku selalu berharap dan berdoa agar aku mempunyai seorang cowok yang sesuai aku inginkan.Sudah 3 tahun aku berpacaran dengan Putra. Aku berkenalan dengan Putra iseng- iseng melalui chat. Aku berpikiran saat itu adalah aku hanya ingin berteman saja dan kami pun bertukar nomor telepon. Satu tahun kami tidak berkomunikasi. Tiba- tiba, hpku berdering dan aku tidak mengenali nomor tersebut karena hp ku sempat rusak. Setelah kuangkat aku mengenal suara itu dan ternyata adalah Putra. Putra kukenal dia adalah seorang cowok yang sopan. Lambat laun aku mengenalnya dia bukanlah tipe cowok yang kuinginkan. Hatiku sering disakiti olehnya hingga membuatku menangis. Tapi entah perasaan sayangku kepadanya semakin kuat hingga aku mampu bertahan. Selama aku bertahan itu aku selalu berdoa dan berharap dia tak akan menyakitiku kembali. Kini harapan dan doaku didengar juga oleh Nya. Keyakinanku tidak salah tuk memilih.